Langsung ke konten utama

Risma Irmawati, Inspirasi dari Kampung Purbakala Maros

Risma Irmawati; Ekspedisi Difabel Menembus Batas

Saat malam tiba, suasana sunyi dan gelap menyergap hampir sebagian besar wilayah Leang-Leang, Kecamatan Bantimurung, Maros, Sulawesi Selatan. Tidak ada lampu jalan. Lalu lalang pejalan kaki dan kendaraan bisa dihitung jari.

Jumat Malam, 23 Desember 2016. Di satu rumah panggung, tampak keriuhan. Delapan pemuda; enam laki-laki dan dua perempuan saling berbincang dalam bahasa bugis, entah apa yang mereka bahas tapi tak jarang tiba-tiba meledak tawa.

“Ke situ meki saja, banyak ji itu teman-teman di sana.” Ujar Abustan, ketua IKPAL. IKPAL adalah singkatan dari Ikatan Pemuda Leang-Leang, organisasi yang dibentuk oleh anak muda setempat, sebagai wadah menyalurkan kreatifitas.

Di rumah panggung itu, kami duduk melantai, medengarkan cerita Irfan tentang keseharian pemuda Leang-Leang dan sejarah pendirian IKPAL. “Itue yang jilbab hitam, salah satu pendiri IKPAL.” katanya, sembari menunjuk satu dari dua orang perempuan yang berada di belakang kami.

Namanya Risma Irmawati, akrab disapa Imma. Berusia 28 Tahun. Tinggi sekitar 160 cm. Ia terlahir sebagai penyandang tuna daksa, sejak kecil jemari tangan kanannya tidak terbentuk sempurna.

Imma berjalan mendekat, mengambil posisi duduk berhadapan dengan kami. Ia tersenyum lalu mulai bercerita. “Awalnya, dari Arfah. Datang ki ke kantor ku mau ketemu pak lurah untuk bicarakan pendirian organisasi pemuda.”

“Arfah, bagus tong itu kalo ada perempuan gabung,” lanjutnya. Arfah mengiyakan, Imma lalu mengajak beberapa teman perempuannya untuk mengikuti rapat awal pembentukan IKPAL. “Riska, Nimrayani, Nurul sama Irma.”

Saya memiliki banyak teman perempuan, tapi tidak banyak di antara mereka yang tertarik dengan hal seperti ini. Saya penasaran dengan ketertarikan Imma. “Kenapa bisa mau ki terlibat ?”

“Membangun kampung sendiri, kenapa tidak,” jawabnya ringkas.

Dalam bahasa Makassar, Leang berarti gua. Kampung ini memang memiliki banyak gua yang tersembunyi didalam pebukitan karst. Beberapa dari gua-gua tersebut diyakini para arkeolog sebagai tempat tinggal manusia purbakala.

“Besar potensi wisatanya ini kampung, tapi belum terkelola maksimal,” kata Imma.

Sejak tahun 1992, Leang-Leang telah berstatus sebagai kelurahan. Berada 7 km dari ibu kota kecamatan Bantimurung dan 13 km dari kota Maros. Mayoritas masyarakatnya menggantungkan hidup dengan bertani dan beternak.

“Masih banyak masyarakat Leang-Leang yang miskin dan buta aksara.” ujar perempuan yang sejak tahun 2007 aktif bekerja sebagai pendamping masyarakat.

API YANG TAK PERNAH PADAM

Imma tumbuh besar di Leang-Leang. Anak bungsu dari empat bersaudara. Piatu sejak kecil. Orang tuanya bekerja sebagai petani. Walau terlahir sebagai seorang tuna daksa, Imma tetap selalu bersyukur.

“Ketika terlahir dengan keterbatasan, tidak semua orang mampu keluar dan berbaur dengan masyarakat,”

“Apalagi terkadang ada keluarga yang biasa menutupi keadaan anaknya,”

“Tapi saya bersyukur punya keluarga yang banyak berperan untuk pendidikan dan kebebasanku untuk terus maju.”

Pertengahan tahun 2010, Imma mengikuti Pelatihan Keterampilan Khusus yang dilaksanakan Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina Daksa (BBRVBD) di Cibinong, Bogor. Sepulang dari pelatihan ini, ia dipercaya menjadi Operator Komputer di Kantor Kelurahan Leang-Leang.

“Banyak ji kesempatan, yang penting mau berusaha,”

Imma melihat partisipasi penyandang disabilitas dalam seluruh aspek kehidupan cukup terbuka lebar. Saat ini ia aktif menyuarakan hal tersebut dalam organisasi Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) dan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) kabupaten Maros.

“Saya juga atlet NPC kabupaten Maros.” NPC atau National Paralympic Committee adalah organisasi olahraga bagi penyandang disabilitas di Indonesia.

Imma tercatat sebagai atlet tunggal putri untuk olahraga bulutangkis. Ia sempat mengikuti kejuaraan Pekan Paralympic Provinsi (Perpaprov) III Sulawesi Selatan yang dilaksanakan di kabupaten Bantaeng tahun 2014 silam.

Cacat fisik bukan penghalang untuk terus melangkah jauh kedepan. Mengenal dunia luar. Hal tersebut dibuktikan Imma dengan mendaki Gunung Latimojong, Sulawesi Selatan.

Gunung tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan ini memiliki ketinggin 3478 mdpl. Imma berhasil mendaki sampai di puncak tertinggi, Rante Mario. “Tidak ada ji kendala berarti.” katanya sambil menunjukkan foto-foto pendakian.

BREAK THE LIMITS

Setamat SMA, Imma tidak lantas melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Ia memilih bekerja sebagai Pendamping Program Pemberdayaan Petani Farmers Empowerment through Agricultural Technology and Information (FEATI) kecamatan Bantimurung Maros.

Bekerja sebagai pendamping atau fasilitator, bukan perkara mudah. Mengabdikan diri bagi kepentingan orang banyak membutuhkan pengorbanan dan rasa empati. Puluhan tahun hidup sebagai anak petani, Imma merasakan pahit getirnya hidup yang dijalani petani. Serangan hama, gagal panen, hingga harga jual yang tidak menentu.

“Masalah yang dialami masyarakat Leang-Leang adalah masalahku juga”. Imma merasa harus bergerak untuk merubah kondisi.

Tahun 2009-2010, Ia bergabung dalam Tim Pengelola Kegiatan Program PNPM Mandiri Pedesaan. Program yang didesain pemerintah untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja di wilayah pedesaan.

Saat ini, ia bekerja sebagai pendamping Program Keluarga Harapan Kecamatan Bantimurung Maros. Ia juga aktif melaksankan kegiatan-kegiatan tanpa harus berharap pada APBD, APBN atau dana funding tertentu.

Imma yakin, merubah kondisi sosial-ekonomi masyarakat harus dimulai dari pendidikan. Bersama anggota-anggota IKPAL, Ia menggalakkan kegiatan pemberantasan buta aksara. “Dimulai dari hal-hal kecil, pelan-pelan akan tumbuh menjadi sesuatu yang besar,”

Mereka membantu orang tua di Leang-Leang belajar cara membaca dan menulis. “Idenya kak Imma itu,” ungkap Abustan, ketua IKPAL. “Dia penggeraknya ini organisasi, sosok yang luar biasa, kakak bagi kami semua.” Lanjutnya.

“Harapanku saya simple ji, masyarakat Leang-Leang harus lebih berpendidikan, jangan cuma sampai SMA.” Imma sendiri telah menyelesaikan kuliah Jurusan Administrasi Negara Universitas Indonesia Timur di tahun 2015.

Dari sosok seperti Risma Irmawati, saya dan kalian bisa percaya bahwa halangan atau hambatan untuk meraih apa yang dicita-citakan adalah persepsi yang kita ciptakan sendiri. Tidak benar-benar nyata. “Terus lakukan yang terbaik, setelah itu biarkan !”. Selamat hari difabel sedunia, 03 Desember 2017.

Postingan populer dari blog ini

The Power of Pak Kades

The Power of Pak Kades - Tulisan yang sedang anda baca saat ini bersumber dari hasil wawancara saya dengan seorang Kepala desa dari bumi Kolaka Utara. Seorang yang cukup inspiratif. Saya mengenalnya sudah lama sejak kami masih sama-sama mahasiswa dan aktif di organisasi, Masykuri namanya. Sungguh ini adalah kesempatan yang baik, saya akan berusaha untuk menjelaskan mengapa sosok Pak kades ini muncul di BRITADESA. Dia muda, energik, mau berbuat dan yang paling penting dia punya visi yang kuat. Baginya desa yang sejahtera bukan hanya terbangun secara fisik saja melainkan pembangunan manusia juga merupakan hal yang sangat penting. Dari diskusi dengan pak kades ini saya mendapatkan banyak pelajaran. Beberapa program pembangunan sudah dia canangkan, dan salah satu yang paling menarik yaitu program membangun kelas paralel sekolah dasar di salah satu dusun yang terletak di pegunungan. Berangkat dari latar belakang untuk mempersiapkan generasi menghadapi zaman yang penuh tantangan...

MELOKALKAN SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) UNTUK PEMBANGUNAN DESA

Pembangunan berkelanjutan merupakan suatu upaya terencana dan tersistematis untuk mengarah pada perubahan yang lebih baik dengan mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan hidup generasi mendatang. Konsep pembangunan berkelanjutan, Sustainable Development Goals (SDGs) dianggap lebih mampu memberikan solusi ke arah pembangunan yang tepat dan mampu menjawab beberapa masalah yang belum terjawab dimasa lalu (MDGs, Millenium Development Goals).  Sehingga, ker angka SDGs yang dimaksud diharapkan dapat menjadi jawaban setiap tantangan dunia yang selalu berubah dari waktu ke waktu, dimana SDGs disusun berdasarkan skala pembangunan kebutuhan masyarakat dunia dengan tiga prioritas utama, Human Development, Economic Development, dan Environment Development. Human development menawarkan gagasan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang berkualitas, akses terhadap pelayanan kesehatan yang humanis, penegakan hukum, perdamaian dan kebebasan akan pilihan-pilihan rasional da...

TERANG CRAFT, KELOMPOK USAHA OLAHAN BATOK KELAPA DESA SINORANG

Kali ini saya berkesempatan meliput salah satu aktifitas kreatif anak-anak muda desa Sinorang Kecamatan Batui Selatan Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah. Usaha kreatif yang mereka jalankan adalah "Terang Craft" yaitu kelompok perajin batok kelapa yang fokus mengolah batok kelapa menjadi berbagai macam produk seperti  Perabot rumah/kantor, alat konsumsi, aksesoris dan berbagi produk lainnya. Salah seorang narasumber, Parto Hamis sekaligus pelaku usaha ini menuturkan awal mula berdirinya Terang Craft pada Juli 2019, dengan anggota kelompok 5 orang. Kelompok usaha ini diinisiasi oleh seorang masyarakat desa Sinorang namanya pak dayak, pada tahun 2015. Nanti tahun 2019 ini barulah saya bersama kawan-kawan mencoba mengajak perusahaan  membesarkan usaha kelompok,  sehingga terbentuklah nama kelompok Terang Craft. Menurut Parto Hamis. Yang menarik, kelompok usaha ini disupport pendanaan dari pihak perusahaan, JOB Pertamina medco E&P Tomori Sulawesi yang beroperasi di...