Agricultural Wisdom Petani Di Bumi Massenrempulu - Menyusuri jalan tani di areal pertanian/perkebunan masyarakat yang berlokasi di desa Bubun Lamba kecamatan Anggeraja kabupaten Enrekang, memberikan inspirasi dan membuka wawasan saya tentang "Agricultural wisdom" yang diterapkan oleh sebagian besar masyarakat lokal.
Salah seorang yang sempat saya wawancarai menuturkan begitu banyak informasi sekaligus mengajarkan banyak hal yang menurut saya patut ditiru dan diterapkan di tempat lain khususnya dalam upaya menjaga siklus food safety atau food security kita masing-masing, dan lebih baik lagi jika dijadikan sebagai suatu gerakan.
Rahmatia namanya. Seorang perempuan perkasa kira-kira umurnya sekitar 35 tahun, sehari-hari menggarap kebun bawang merah miliknya yang luasnya sekitar 1 Ha. Dia melakukannya sendiri. Dan yang penting untuk dicatat, "dia juga masih jomblo".
Kalau yang ini peluang buat yang masih Jones hehe.
Kembali ke Fokus. Yang menarik menurut saya adalah pengelolaan lahan dilakukan secara terintegrasi antara pertanian dengan perikanan. Di antara hamparan lahan perkebunan dibuat kolam untuk mensuplai kebutuhan air lahan dan di kolam tersebut mereka memelihara ikan mas, lele, bawal, dan ikan nila.
Konsep ini sebenarnya sudah lama diperkenalkan di Indonesia yaitu dengan tujuan memanfaatkan potensi lahan untuk meningkatkan produktivitas dan yang tak kalah pentingnya lagi, memenuhi kebutuhan protein hewani (ikan) rumah tangga tanpa harus membeli.
Untuk hal ini berarti petani akan meminimalisir belanja rumah tangga. Malah jika dikelola dengan manajemen yang tepat, bisa menjadi Alternatif Income Generating yang menguntungkan.
Menyiasati Keadaan
Integrasi perikanan dan kebun di lahan milik Rahmatia dan petani lainnya ini membuka wawasan saya bahwa profesi petani merupakan profesi yang lumayan berdaulat. Mengapa tidak saya katakan sepenuhnya berdaulat? Tau sendiri kan apa ada yang berdaulat di negeri ini?
Oke mari kita lanjutkan penelusuran. Sepanjang yang saya amati, dan dari wawancara saya dengan beberapa orang petani lainnya di rumah Rahmatia yang juga terletak di tengah lokasi perkebunannya, saya disuguhi "Tuak Canik" nira hasil sadapan enau yang sangat nikmat, maknyuuus.
Saya dibawa pada sebuah alur berpikir inspiratif lainnya dimana keberadaan kolam ikan tersebut selain untuk mensuplai kebutuhan ikan, juga menurut beberapa petani sebagai pengamanan. Pernah ada beberapa kasus "sabotase" oleh oknum atau tangan-tangan tak bertanggungjawab yang dihasut iri dan dengki dengan meracuni kolam pengairan akibatnya tanaman bawang merah mati dan merugikan petani.
Entah dengan motif apa namun beberapa kejadian serupa membuat masyarakat berjaga-jaga Waspada. Maka keberadaan ikan-ikan tersebut di kolam jika masih hidup berarti kolam aman dan airnya bisa dipakai untuk tanaman. Jika ikannya mengapung tak berdaya berarti air kolam tercemar (beracun). Semacam alarm hidup.
Kreatif Ditengah Krisis
Kreatifitas memang tidak mengenal tempat. Menurut hemat saya kreatifitas itu muncul kalau ada krisis atau dengan kata lain, masalah melahirkan kreatifitas. Untuk mensiasati tingginya biaya "pestisida" dan ganasnya serbuan ulat pemangsa tanaman yang tak kenal mubazzir, apa saja yang ada disikat.
Maka Rahmatia dan rekan-rekan petani lainnya membuat perangkap hama ulat "imago" dari seng seukuran 20x30 cm ditancapkan di tiang lalu kemudian diolesi lem tikus dan dipasang menyebar ke beberapa titik di kebun dengan harapan untuk menjebak hama supaya tidak lolos masuk ke dalam tanah bertelur. Lagi-lagi saya kagum dengan pengendalian penyebaran hama ini. Tanpa harus banyak mengeluarkan biaya dan tenaga.
Banyak lagi kreatifitas lainnya yang saya temui namun pada kesempatan ini tidak dapat diuraikan semuanya. Akan tetapi dibalik itu saya kembali dengan pertanyaan yang masih belum terjawab, kalau begitu apakah pemerintah melalui dinas terkait tidak peka melihat persoalan petani kita? sehingga mereka (petani) harus menemukan sendiri cara agar bisa menyelamatkan pekerjaan mereka.
Ataukah petani yang tidak mau mengikuti arahan pemerintah (penyuluh) terkait pengelolaan pertanian? Kesimpulan saya sementara bahwa dimanapun di belahan bumi Indonesia ini, petani kita masih harus banyak berpikir kreatif agar bisa survive di tengah arus kehidupan yang serba tak jelas.
